Keterampilan merupakan kemampuan dasar yang melekat dalam diri manusia yang perlu dilatih, diasah, serta diasah secara terus-menerus dan dikembangkan sesuai dengan keahliannya. Sehingga seseorang dapat menjadi ahli dan professional dalam bidangnya
Bentuk latihan keterampilan cukup
beraneka ragam, antara lain keterampilan memasak, keterampilan menjahit,
keterampilan perikanan dan sebagainya. Melalui kegiatan keterampilan menjadikan
tingkat kreatifitas semakin tinggi.
LPKA Kelas II Jakarta melaksanakan
latihan keterampilan budidaya ikan lele, kangkung dan magot yang diikuti
Andikpas LPKA Kelas II Jakarta yang telah memenuhi syarat. Bertempat pekarangan
LPKA Jakarta, yang berada di wilayah komplek Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Republik Indonesia. Dalam melakukan budaya tentunya di perlukan
manajemen pembesaran budidaya. Berikut diantaranya:
A. Manajemen pembesaran ikan lele
memiliki hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Manajemen Pakan
Pakan yang digunakan dalam
budidaya ikan lele berupa pakan apung, pakan ikan lele memiliki ukuran yang
berbeda, sesuai dengan umur ikan.
2. Pemeliharaan
Melakukan pemisahan untuk ikan
lele, berdasarkan ukuran besar kecilnya badan ikan lele. Agar tidak terjadi
kanibalisme.
3. Penggantian Air
Hal penting lain dalam budidaya
ikan lele adalah pengelolaan air kolam. Untuk mendapatkan hasil maksimal kualitas
dan kuantitas air harus tetap terjaga. Apabila sudah muncul bau busuk,
buang sepertiga air bagian bawah kemudian isi lagi dengan air baru. Pergantian
air kolam dilakukan apabila tercium bau yang tidak sedap dan setelah terjadi
hujan. Agar tetap terjaga kadar oksigen di dalam air.
B. Manajemen pembesaran magot
memiliki hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Pemilihan Tempat dan Wadah
Pemeliharaan
Pertama-tama, dalam saat memulai
pemeliharaan maggot BSF, pemilihan tempat dan wadah pemeliharaan menjadi hal
yang sangat penting. Tempat pemeliharaan sebaiknya diletakkan di tempat yang
teduh namun tetap terkena sinar matahari cukup. Wadah yang digunakan sebaiknya
terbuat dari bahan yang tahan terhadap lembab dan memiliki ventilasi yang baik.
2. Penyiapan Media Pemeliharaan
Setelah menentukan tempat dan
wadah pemeliharaan, langkah selanjutnya adalah menyiapkan media pemeliharaan
maggot BSF. Media pemeliharaan yang baik biasanya terdiri dari campuran bahan
organik seperti dedak, ampas tahu, limbah dapur, dan lain sebagainya. Media ini
harus dijaga kelembabannya agar tidak terlalu kering atau terlalu basah.
3. Pengaturan Suhu dan Kelembaban
Suhu dan kelembaban juga menjadi
faktor penting dalam pemeliharaan maggot BSF. Suhu ideal untuk pemeliharaan maggot
BSF adalah antara 25-35 derajat Celsius. Kelembaban yang optimal berkisar
antara 50-70%. Untuk menjaga suhu dan kelembaban tersebut, pemantauan secara
teratur serta pengaturan ventilasi pada wadah pemeliharaan sangat diperlukan.
4. Pemberian Makanan dan
Perawatan
Pemberian makanan yang tepat
kepada maggot BSF sangat penting untuk menjaga pertumbuhan dan kualitasnya.
Maggot BSF merupakan hewan detritivora yang biasa memakan limbah organik. Oleh
karena itu, limbah organik seperti sayuran busuk, kulit buah, dan limbah dapur
dapat digunakan sebagai makanan utama. Namun perlu diingat, jangan memberikan
makanan berbau busuk atau mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi maggot
BSF.
Selain pemberian makanan,
perawatan harian juga harus dilakukan. Perawatan tersebut meliputi pemantauan
kebersihan wadah pemeliharaan, penghilangan sisa makanan yang tidak dimakan
agar tidak menimbulkan bau tak sedap, dan penggantian media pemeliharaan yang
telah tercemar oleh kotoran atau kotoran maggot BSF.
Perawatan lainnya adalah
pemberian makanan tambahan seperti roti basi atau sisa makanan yang tidak
dimakan oleh manusia. Pemberian makanan tambahan tersebut dapat dilakukan
secara berkala untuk memberikan asupan gizi yang cukup kepada maggot BSF.
C. Manajemen pembesaran kangkung memiliki
hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
1.Pemupukan
Kangkung dapat hidup pada kesuburan tanah sedang. Kangkung sangat tanggap
terhadap pemupukan nitrogen dan juga pemupukan organik. Kombinasi penggunaan
pupuk organik dan anorganik dapat meningkatkan hasil dan memelihara kesuburan
tanah.
2.Pengairan
Kangkung membutuhkan banyak air karena berbatang basah. Pengairan sangat
diperlukan setelah tanam, terutama bila tanaman layu pada siang hari. Pengairan
dapat dilakukan dengan dileb diantara bedengan.
3.Penyiangan
gulma
Gulma
menyaingi cahaya, air, dan cahaya yang dapat mengurangi hasil. Tanah harus
diolah dengan baik karena benih kangkung lambat untuk tumbuh, maka pengendalian
gulma perlu dilakukan dini pada penanaman benih secara langsung
4.Pengendalian
hama dan penyakit tanaman. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara bercocok
tanam yang baik seperti rotasi tanaman, sanitasi, jarak tanam yang cukup,
penyiraman di antara bedengan. Penggunaan pestisida sebaiknya dihindarkan,
kecuali bila serangan begitu tinggi, sehingga penyemprotan pestisida perlu
dilakukan mengikuti kaidah yang berlaku untuk keselamatan.
Dengan
memperhatikan hal-hal tersebut diatas, serta dengan melakukan perawatan secara
rutin dan berkala diharapkan dapat menghasilkan panen ikan lele, magot dan
kangkung dengan kualitas baik.


